Kamis , 5 Agustus 2021
Home / Budaya / Topeng Dalang Madura, Mulai Terkikis Jaman?

Topeng Dalang Madura, Mulai Terkikis Jaman?

focusmadura.com-Pagelaran Seni Topeng Sumenep Madura

Topeng Dalang Madura Dari Waktu Ke Waktu…

Topeng Dalang Madura adalah suatu jenis kesenian teater lokal tradisional. Sebagaimana namanya sudah menyebutkan, Topeng Dalang Madura termasuk dalam kelompok seni pendalangan.

Dan kita pun sudah mengetahui pula betapa tua sejarah kehidupan seni pendalangan, yang telah sanggup menerobos dinding jaman berabad-abad lamanya. Dalam pada itu, topeng yang menjadi atribut utama dalam pertunjukan Topeng Dalang Madura, pun mempunyai sejarah yang tua sekali, bahkan, menurut hemat kami, topeng jauh lebih tua adanya daripada kesenian pendalangan itu sendiri (Soetrisno, 195).

Melihat kenyataannya sekarang tidak dapat diingkari, bahwa Topeng Dalang Madura berangsur-angsur mulai melangka. Orang cenderung mengatakan, bahwa faktor penyebabnya ialah mengalirnya kebudayaan asing yang masuk dalam tata kehidupan masyarakat karena terbawa oleh pengaruh teknologi modern, seperti radio, film, dan televisi, yang dirasa lebih praktis, murah dan menarik, tetapi belum mampu sepenuhnya mengangkat kebudayaan kita sendiri untuk pemenuhan selera. Dalang untuk pertunjukan Topeng Dalang Madura kini hanya tinggal beberapa orang saja, itupun sudah tua-tua, sedang yang mudamuda belum tampil. Kaderasi belum dipersiapkan sama sekali. Dikuatirkan bahwa cepat atau lamban.

Topeng Dalang Madura akan mengalami kepunahan. Hal yang patut disayangkan, sebab rekan-rekannya di Jawa, baik di daratan Jawa Timur, Jawa Tengah, maupun di Jawa Barat, justru mengalami penataan kembali untuk menjaga kelestariannya (Soetrisno,196).

Topeng Dalang dan Perkembangannya

Perlu kiranya dipertanyakan, apakah Topeng Dalang Madura sudah mampu “bergaul” dengan masyarakat rakyat banyak, sehingga penampilannya di tengah-tengah masyarakat tersebut dapat membangkitkan rasa “ikut memiliki” dan merupakan kebanggaan? Sebab pada awal mulanya Topeng Dalang Madura adalah kesenian keraton, lahir di lingkungan keraton, dan menjadi kaum bangsawan dan elite tingkat atas.

Dengan terjadinya perubahan struktur masyarakat dari yang bersifat feodal di masa lampau kenudian menjadi bersifat kerakyatan yang dicitak-cotakan oleh perjuangan bangsa Indonesia setelah mencapai kemerdekaan dan kedaulatan negara, maka sejauh manakah Topeng Dalang Madura dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan yang baru?

Tari ini biasanya diadakan pada waktu ruwatan (acara syukuran), seperti ruwatan makam, ruwatan pekarangan, ruwatan desa, ruwatan sunatan, dan ruwatan pernikahan. Di daerah pesisir Madura, umumnya menggunakan Tari Topeng dalam setiap kegiatan ruwatan. Juga pada acara ruwatan bumi atau disebut dengan berumbung, dikatakan bahwa dalam kegiatan ini tidak boleh menggunakan kesenian tari yang lain. Jika pada kegiatan ini menggunakan kesenian tari yang lain, maka pada daerah atau desa yang mengadakan acara tersebut akan tertimpa musibah, seperti masyarakat akan terkena penyakit dan hasil bumi pada daerah tersebut akan berkurang.

Menurut kepercayaan masyarakat daerah tersebut, jika terdapat seekor ular berwarna kuning melintas di atas panggung pada waktu pertunjukan berlangsung, maka dipercaya bahwa ruwatan pada daerah tersebut berjalan dengan lancar.

Terdapat dua versi Tari Topeng Dalang, yaitu versi Kalianget dan Dasuk. Kedua-duanya pada saat ini masih cukup sering dipentaskan, sesuai dengan permintaan masyarakat, mereka menginginkan tari versi daerah yang mana yang ingin dipentaskan. Saat ini terdapat sebuah organisasi Tari Topeng Dalang di kecamatan kota pinggiran yang dalam tiap minggunya masih aktif mementaskan kesenian tari tersebut.

Pada saat ini masyarakat daerah perkotaan tidak begitu meminati kesenian tari ini, hanya didaerah pinggiran saja yang masih bertahan memperjuangkan kelestarian seni turun menurun ini. Pada beberapa tahun sebelumnya, pemerintah kota masih memperhatikan Tari Topeng Dalang dengan mengundang untuk dipentaskan pada acara-acara tertentu di kota Madura. Acara yang dipentaskan mereka sebut dengan Petilan, yang dimana dalam sekali pementasan berlangsung selama 15 hingga 20 menit.

Dalam setiap pementasan, jalan cerita yang dibawakan oleh dalang akan disesuaikan dengan masyarakat yang akan menyaksikan pertunjukan tersebut. Misalnya jika diadakan di pemerintah kota, maka jalan cerita yang dibawakan terdapat unsur-unsur politik yang sedang berkembang pada saat ini, namun masih tetap mempertahankan cerita pewayangan sesuai dengan karakter masing-masing wayang. Tetapi pada 2 tahun ini, pemerintah tidak begitu merespon dengan Tari Topeng Dalang. Tidak ada lagi undangan dari pemerintah kota untuk menampilkan kesenian ini, yang masih ada hanyalah kegiatan undangan ruwatan dari masyarakat.

Perlunya Revitalisasi

Dewasa ini dengan seiring berjalannya waktu, pandangan masyarakat terhadap seni kebudayaan tradisional makin terkikis karena masuknya pengaruh dari kebudayaan barat ke Indonesia. Pengaruh tersebut sangat terlihat dari cara berpakaian, tingkah laku, dan tutur kata yang masyarakat lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan seni kebudayaan tradisional yang Indonesia miliki mulai tergeser dan hampir punah keberadaannya.

Salah satu contohnya adalah kebudayaan asli Madura, yaitu kesenian Tari Topeng Dalang. Kesenian ini sebenarnya cukup berkembang di daerah Madura, namun yang lebih terlihat dan terasa secara jelas adalah di daerah pinggiran Madura, seperti di Sumenep, Dasuk, dan Kalianget. Tidak salah jika kesenian Tari Topeng Dalang disebut sebagai kesenian rakyat pinggiran, tetapi kesenian ini dulunya berawal mula dari kesenian yang diselenggarakan di keraton Sumenep.

Terdapat faktor pendukung dalam pelestarian kebudayaan tradisional Madura. Masyarakat daerah pedesaan Sumenep masih terlihat sangat antusias dalam mempertahankan warisan budaya yang mereka miliki, yaitu Tari Topeng Dalang. Kesenian ini merupakan kebudayaan yang memiliki nilai-nilai filosofi dalam jalan cerita yang ada di dalamnya.

Dalam tiap jalan cerita, Ramayana – Mahabarata, memiliki nilai filosofi dalam mengajarkan perbuatan baik yang harus dilakukan oleh manusia, baik secara agamis, bertingkah laku, dan bertutur kata. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tarian tersebut menjadi salah satu alasan penting yang dipegang kuat oleh masyarakat Sumenep dalam mempertahankan kebudayaan Tari Topeng Dalang. Faktor turun menurun juga merupakan alasan lain yang menjadi pendukung dari kesenian ini untuk tetap bertahan hingga saat ini.

Setiap sanggar tari yang ada di wilayah pedesaan Sumenep, merupakan sanggar tari yang dalang, penari, maupun perajin topeng dan kostumnya adalah orang-orang yang secara turun menurun melanjutkan warisan kebudayaan yang diberikan oleh para pendahulunya. Para masyarakat golongan tua dalam tiap sanggar tari masih secara rutin mengadakan pentas Tari Topeng Dalang, baik pementasan tersebut mereka adakan sendiri maupun pementasan yang diadakan dari undangan masyarakat sekitar dalam acara ruwatan (syukuran). Beberapa budayawan yang masih tersisa juga turut membantu dalam pelestarian seni kebudayaan ini.

Berdasarkan fakta lapangan mengenai jumlah peminat dari Tari Topeng Dalang Madura yang sangat minim, diperlukan adanya revitalisasi agar peninggalan kebudayaan tersebut tidak punah. Melihat kenyataan yang seharusnya demikian, maka kegiatan revitalisasi budaya menjadi jelas sangat vital dan bahkan mendesak.

Pemahaman pelaku gerakan revitalisasi pertama-tama harus menyadari dan mewaspadai bahwasannya revitalisasi budaya nusantara bukan pekerjaan di ruang steril hampa udara. Potensi terjadinya hambatan dan kegagalan diakibatkan realitas, bahwa kita adalah bagian dari kontributor keterpurukan yang terjadi tentu sangat potensial dapat mencemari niat dan gagasan baik yang tengah dikerjakan. Maka tidak ada jalan lain di setiap kegiatan, dengan lapang dada kita harus secara sungguh-sungguh mempersiapkan dan mengutamakan dengan terperinci seluruh perangkat pendukung.

Dimulai dari hal yang terkecil sampai yang kompleks, harus cermat tertata dan menjadi bagian tak terpisahkan. Adalah ironis jika dalam kegiatan revitalisasi budaya yang mengusung tema besar, tata penyelenggaraannya masih membiarkan hal-hal kecil yang berantakan dan berserakan di mana-mana. (diangkat oleh Lontar Madura)

Topeng Dalang Madura, Mulai Terkikis Jaman? http://www.lontarmadura.com/topeng-dalang-madura-mulai-terkikis-jaman/#ixzz49aStHsuU

 

About focus

Lihat Juga

Mendikbud dukung usulan Senapati Nusantara soal Hari Keris Nasional

Jakarta – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Efendi menerima audiensi Serikat Nasional Pelestari Tosan Aji …

Kirab Pusaka Keraton Sumenep Sita Perhatian Wisatawan Asing

Sumenep – Usai melalui prosesi penjamasan di Desa Aeng Tong-tong, pusaka keraton akhirnya dikirab kemabli …

Diikuti ribuan peserta, JJS EGRANG Sumenep sebagai pelestari budaya Indonesia

Sumenep – Jalan-jalan sehat (JJS) Egrang, merupakan sebuah hal yang baru di Indonesia pada umum nya, …

KABUPATEN SUMENEP DUKUNG RENCANA PENETAPAN HARI KERIS NASIONAL

Bertempat di rumah dinas Wakil Bupati Sumenep, tokoh perkerisan sumenep yang juga wakil bupati Sumenep …

Perempuan Keris : Saya Masih Akan Menjadi ‘Perempuan’ Di Garis Tepi Melawan Batas Wajar

Setiap tahun, tepatnya tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Ya, Raden Ajeng Kartini adalah …

Batik On The Sea Pecundangi Sumenep

Sumenep-, Sedikitnya terdapat 45 stand yang ditampilkan pada acara Batik On The Sea di Pantai …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *