Minggu , 9 Mei 2021
Home / Lifestyle / Penelitian: Radiasi Ponsel Tidak Bunuh Sperma Anda

Penelitian: Radiasi Ponsel Tidak Bunuh Sperma Anda

Paham bahwa radiasi elektromagnetik pada rentang frekuensi radio dapat menyebabkan kemandulan pada lelaki, baik sementara atau permanen, sudah beredar sejak lama.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Hermann Muller, seorang ahli genetika yang memenangkan Hadiah Nobel, untuk menunjukkan bahwa x-ray bisa menyebabkan kemandulan dan mutasi genetik. Kemudian untuk mengevaluasi efek dari gelombang radio dalam restang waktu yang sama model eksperimen yang ia gunakan menunjukkan bahwa x-ray dapat mengganggu reproduksi.

Muller tidak dapat menemukan dosis gelombang radio yang dihasilkan sehingga menimbulkan kemandulan atau mutasi genetik, dan menyimpulkan bahwa gelombang radio tidak menyajikan ancaman yang sama untuk kesuburan seperti yang dilakukan pada x-ray.

Berbeda dengan gelombang radio. Gelombang X-ray dan gelombang radio berbeda dalam satu faktor kunci, yakni memiliki panjang gelombang yang sangat berbeda.

Semua radiasi elektromagnetik melalui ruang sebagai gelombang tak terlihat adanya energi. Dan itu adalah panjang gelombang tertentu dari radiasi yang menentukan dampaknya, baik fisik dan biologis.

Panjang gelombang yang lebih pendek membawa sejumlah energi yang lebih tinggi daripada panjang gelombang yang lebih panjang.

X-ray dapat merusak sel dan jaringan justru karena panjang gelombangnya sangat pendek dan dengan demikian sangat energik serta sangat berbahaya bagi sel.

Sedangkan gelombang radio sebaliknya. Membawa sedikit energi karena panjang gelombangnya sangat panjang sehingga terlalu rendah untuk merusak sel.

Dan itu perbedaan besar antara panjang gelombang x-ray dan gelombang radio bahwa teori infertilitas gagal untuk mengenali.

X-ray dan gelombang energi tinggi lainnya, menghasilkan sterilitas dengan membunuh sel-sel testis yang membunuh sperma. Dan dosis x-ray harus sangat tinggi untuk membunuh sel-sel yang cukup untuk menghasilkan sterilitas.

Namun, bahkan ketika dosis tinggi, efek sterilitas biasanya bersifat sementara karena spermatogonium yang masih hidup dapat menelurkan pengganti rekan mereka yang mati, dan jumlah sperma biasanya kembali ke tingkat normal dalam beberapa bulan.

Jadi, dosis x-ray tinggi sangat energik diperlukan untuk membunuh sel-sel yang cukup untuk menghasilkan sterilitas.(suara.com)

 

About focus

Lihat Juga

Yang Harus Dilakukan Saat Menghadapi Tsunami

Tsunami berasal dari bahasa Jepang, tsu yang artinya pelabuhan, dan nami yang artinya gelombang. Tsunami dikenal sebagai gelombang pelabuhan …

5 Pemikiran Gila Bob Sadino yang Bisa Memotivasi Anda Untuk Sukses

Lifestyle- Pemikiran gila Bob Sadino kerap mempengaruhi banyak orang dalam dunia wirausaha. Bagaimana tidak, pemikirannya …

Perempuan Keris : Saya Masih Akan Menjadi ‘Perempuan’ Di Garis Tepi Melawan Batas Wajar

Setiap tahun, tepatnya tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Ya, Raden Ajeng Kartini adalah …

Inilah Potret Blusukan Ala Nia Kurnia Fauzi

Sumenep-, Siang itu dengan cuaca yang panas menyengat, Nia Kurnia Fauzi, Istri orang nomor dua …

Festival Batik Abaikan Keindahan Taman Adipura Sumenep

Sumenep – Pagelaran Festival Batik On The Street menyisakan pemandangan yang tidak enak, hal tersebut dibuktikan …

Dunia Pariwisata Sumenep Menjadi Primadona Bagi Wisatawan Asing

Sumenep – Kunjungan ratusan wisatawan asing ke Kabupaten Sumenep mulai menggeliat, terbukti pada trip ke dua …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *