Minggu , 9 Mei 2021
Home / Budaya / Menguak Misteri Keraton Sumenep yang Tak Mempan Dibakar

Menguak Misteri Keraton Sumenep yang Tak Mempan Dibakar

focusmadura.com-Keraton Sumenep

Keraton Sumenep sebuah bukti kekuasaan lama di Madura.

Keraton Sumenep adalah sebuah bukti tentang kekuasaan lama yang pernah bertahta di kawasan di Ujung Pulau Madura. Meski Kerajaan Sumenep kini tak lagi eksis, namun bagi masyarakat Sumenep keraton itu masih dianggap berwibawa.

Keraton ini dibangun pada pada masa Pangeran Notokusumo I Asiruddin atau juga dikenal dengan nama Panembahan Sumolo dan diselesaikan pada tahun 1780 M. Ia adalah putra dari Bindara Saod dari istri Nyai Izzah yang masih keturunan dari Sunan Kudus.

Beberapa peninggalan lain dari Panembahan Sumolo yang masih bisa kita saksikan hingga saat ini adalah Masjid Agung Sumenep yang selesai dibangun pada tahun 1787 M.

Arsitek dari pembangunan keraton ini adalah seorang Tionghoa bernama Lauw Piango yang juga berperan sama dalam pembangunan Masjid Agung. Lau Piango adalah generasi kedua orang Tionghoa yang tinggal di Sumenep.

Kakeknya bernama Lauw Khun Thing, sebelumnya dia tinggal di Semarang namun karena di sana terjadi huru-hara akhirnya dia memutuskan pindah ke Sumenep pada tahun 1740 M. Dia menjadi salah satu dari enam orang Tionghoa pertama yang tinggal di Sumenep.

Kini keraton tersebut telah berubah menjadi bangunan cagar budaya yang memiliki fungsi sebagai sarana pembelajaran sejarah, tradisi dan budaya Sumenep. Untuk memperkuat fungsi itu dibangun pula sebuah museum yang berada tepat di depan keraton.

Museum itu menyimpan berbagai benda bersejarah yang memiliki kaitan dengan kebesaran kerajaan Sumenep di masa lalu. Beberapa benda bersejarah lain juga dipajang di dalam sebuah gedung dalam komplek keraton.

Beberapa di antara benda-benda itu adalah Al-quran yang ditulis tangan sendiri oleh Sultan Abdurrahman, sebuah sajadah yang terbuat dari kulit harimau yang digunakan sebagai alas salat raja, sebuah alas kaki atau sandal masa itu yang disebut dengan Gamparan Tonggulan yang terbuat dari kayu metaos.

Kemudian ada pula beberapa benda lain yang digunakan oleh raja atau bangsawan Sumenep ketika itu seperti sebuah tandu untuk orang sakit serta perabot rumah seperti meja dan kursi yang masih terlihat utuh.

Menurut Ramli, penjaga keraton, dari sejak dibangun hingga kini keraton itu tidak mengalami perubahan bentuk yang berarti. Bagian utama dari keraton itu adalah sebuah ruang besar, yang kini tertutup, yang digunakan sebagai tempat tinggal sehari-hari raja dan keluarganya.

Ruang utama itu terhubung dengan pendopo oleh sebuah koridor panjang. Pendopo itu dulu digunakan sebagai tempat raja menerima tamu dan memanggil bawahannya.

“Keraton ini sempat akan dibakar oleh serdadu Jepang saat invasi ke Indonesia. Namun anehnya, tentara Jepang tak mampu membakarnya,”ujarnya.

focusmadura.com- Pendopo Keraton Sumenep

Kamar keramat

Keanehan keraton ini tidak hanya itu. Dalam ruang utama terdapat sebuah kamar yang dulu digunakan oleh para raja Sumenep. Kamar itu hingga kini masih terawat dengan baik meski kini ruang itu tertutup untuk pengunjung.

Menurut kepercayaan, siapapun, selain keturunan raja Sumenep, tidak diperkenankan untuk tidur di situ. Jika dilanggar akibatnya bisa fatal. Konon, pernah ada seorang anak yang memaksa untuk tidur disitu. Namun setelah itu nasib buruk seperti selalu menyertainya. Puncaknya adalah saat kejiwaan anak tersebut dinyatakan terganggu.

Keraton ini juga dilengkapi dengan pemandian untuk para putri. Pemandian tersebut disebut dengan Pemandian Putri Taman Sare. Pemandian tersebut pada masa itu menggunakan air yang didapat dari tujuh sumber. Terdapat tiga buah pintu, semacam jalan menurun ke bawah menuju pemandian, yang jaraknya saling berdekatan.

Pintu air pertama dipercaya bisa membuat awet muda dan mendekatkan jodoh. Beberapa pengunjung keraton seringkali datang ke pemandian dan langsung turun di pintu ini untuk membasuh muka atau membawa pulang airnya.

“Pintu air ke dua dipercaya bisa membawa rezeki dan kenaikan pangkat. Sedangkan yang ke tiga untuk membantu ketakwaan,” kata dia.(viva.co.id)

 

About focus

Lihat Juga

Mendikbud dukung usulan Senapati Nusantara soal Hari Keris Nasional

Jakarta – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Efendi menerima audiensi Serikat Nasional Pelestari Tosan Aji …

Kirab Pusaka Keraton Sumenep Sita Perhatian Wisatawan Asing

Sumenep – Usai melalui prosesi penjamasan di Desa Aeng Tong-tong, pusaka keraton akhirnya dikirab kemabli …

Diikuti ribuan peserta, JJS EGRANG Sumenep sebagai pelestari budaya Indonesia

Sumenep – Jalan-jalan sehat (JJS) Egrang, merupakan sebuah hal yang baru di Indonesia pada umum nya, …

KABUPATEN SUMENEP DUKUNG RENCANA PENETAPAN HARI KERIS NASIONAL

Bertempat di rumah dinas Wakil Bupati Sumenep, tokoh perkerisan sumenep yang juga wakil bupati Sumenep …

Perempuan Keris : Saya Masih Akan Menjadi ‘Perempuan’ Di Garis Tepi Melawan Batas Wajar

Setiap tahun, tepatnya tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Ya, Raden Ajeng Kartini adalah …

Batik On The Sea Pecundangi Sumenep

Sumenep-, Sedikitnya terdapat 45 stand yang ditampilkan pada acara Batik On The Sea di Pantai …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *