Rabu , 1 Desember 2021
Home / Kesehatan / Lagi… Dua Pasien Miskin Diusir Dari RSUD Sumenep

Lagi… Dua Pasien Miskin Diusir Dari RSUD Sumenep

img-20161122-wa0048

Derita penyakit berat, dua pasien miskin diusir dari RSUD dan disepelekan Dinkes Sumenep

Sumenep- Catatan buruk kembali mencoreng reputasi dunia medis di Kabupaten Sumenep, Madura. Pada hari selasa 22/11/2016,  dua pasien miskin yang bernama Isrijeh 45 tahun dan Suama 55 tahun, warga dusun Talesek, kecamatan Guluk-guluk Sumenep, mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari pihak RSUD dan Dinas keehatan Kabupaten Sumenep.

Berawal ketika kedua pasien yang tergolong dari keluarga miskin ini, hendak berobat ke RSUD Moh. Anwar Sumenep, karena menderita penyakit gondok di bagian leher pasien, maka pasien yang diantar keluarganya pun mendatangi RSUD, dengan mengajukan surat pernyataan miskin (SPM), dari desa dan UPT Puskesmas setempat, namun sesampainya di rumah sakit kedua pasien yang hendak mendaftar sebagai pasien miskin dengan menggunakan SPM ini ditolak oleh petugas RSUD, dengan alasan harus mendapatkan rekomendasi dari dinas kesehatan setempat.

Berdasarkan usiran petugas RSUD tersebut, kedua pasien miskin ini akhirnya mau tidak mau, dengan kondisi kesehatannya yang semakin memburuk, terpaksa mendatangi dinas kesehatan Kabupaten Sumenep, namun kedua pasien miskin ini kembali lagi dikecewakan, pasalnya petugas SPM dinas kesehatan Sumenep yang berinisial H, menolak untuk memberikan rekomendasi, dengan alasan bahwa penyakit yang di derita kedua pasien tersebut hanya penyakit ringan atau tidak berat, dan untuk anggaran SPM di Dinas Kesehatan pun telah habis, ungkap Achmad farid, ketua LSM Gaki.

“ sungguh saya sangat prihatin atas pelayanan medis di Kabupaten Sumenep yang sangat buruk ini, saya mendapatkan informasi tersebut, dan setelah saya datangi kondisi kedua pasien miskin tersebut sangat memprihatinkan, karena hanya diabaikan dan menunggu di salah satu ruangan di RSUD “, tegasnya.

Ach Farid menerangkan bahwa kedua pasien miskin tersebut sempat menjalani beberapa tes untuk menganalisa penyakitnya yang seharusnya besok harus menjalani operasi, yakni seperti tes darah dan lain-lain. Namun setelah beberapa tahapan tersebut dilalui, tiba-tiba kedua pasien miskin tersebut diusir dengan cara diminta keluar dari kamar pasien, dan harus melengkapi kelengkapan administrasi terlebih dahulu, dan dibiarkan begitu saja oleh petugas RSUD Moh Anwar begitu saja, hingga pukul 18.45 WIB.

Kedua pasien tersebut mendatangi RSUD Sumenep yakni sekitar pukul 11.20 WIB, dan kedua pasien juga sempat dimintai uang sebesar Rp. 300.000. Terlebih untuk penanganan medis dengan cara operasi gondok yang dialami oleh pasien, salah satu petugas RSUD Sumenep mencibir ‘ bahwa penanganan medis dengan cara operasi akan dilayani, jika pasien menggunakan cara pembiayaan umum atau BPJS ‘.

“ yang jelas ini orang miskin, apa harus menunggu meninggal dunia terlebih dahulu, baru akan di layani!!! “, singgungnya. Seperti diketahui, buruknya pelayanan medis di RSUD Moh Anwar sehingga membuat Bupati Sumenep, rela ngantor di RSUD Moh Anwar selama sepekan pada beberapa waktu yang lalu.(faris/Ros/red)

 

About focus

Lihat Juga

Pentingnya Ruang Keluarga untuk Hubungan Orangtua dan Anak

Ruang keluarga merupakan bagian terpenting yang berdampak langsung terhadap suasana hati, dan kedekatan hubungan keluarga. …

Apa Bedanya Antara Hepatitis B dan C?

Penyakit hepatitis tentu tak asing lagi di telinga. Namun, penyakit hati ini terdiri dari berbagai …

Kandungan dalam Kopi Ini Bikin Anda Berumur Panjang

Tahukah Anda, ada satu keuntungan tak terduga dari secangkir kopi yang diminum di pagi hari. …

Waspada! Anak Sulit Sarapan Risiko Kekurangan Gizi Menghantui

Sarapan adalah makanan yang paling penting untuk memulai aktivitas sehari-hari. Ini penting karena seseorang harus …

Apa Manfaat Anak Ikut Lomba “17 Agustusan”? Ini Kata Psikolog

Selain upacara bendera, kegiatan yang identik dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia adalah perlombaan. Mulai …

Risiko Penularan Hepatitis B ke Anak Masih Tinggi

Indonesia masih diintai virus hepatitis. Meski angka kejadian hepatitis di Indonesia dilaporkan menurun, masyarakat diimbau …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *