Senin , 29 November 2021
Home / Kesehatan / Biji Apel Mengandung Sianida, Berbahayakah?

Biji Apel Mengandung Sianida, Berbahayakah?

Apel memang buah yang menyehatkan dan menyegarkan. Selain itu, apel juga memiliki manfaat yang menakjubkan untuk tubuh.

Kandungan antioksidan yang ditemukan pada apel dapat melindungi tubuh dari kerusakan akibat oksidasi. Namun, belakangan beredar kabar bahwa biji apel mengandung sianida.

Bagi Anda pecinta apel, wajar jika Anda merasa khawatir. Memang yang Anda makan adalah daging apelnya, tapi kalau benar biji apel mengandung sianida, apakah ini berarti kalau kita tak sengaja menelan biji apel, ada risiko keracunan sianida?

Perlu Anda ketahui bahwa biji apel mengandung amygdalin, zat yang dapat mengeluarkan sianida ketika terjadi kontak dengan enzim pencernaan manusia. Meskipun begitu, seperti dilansir hellosehat.com, keracunan akut yang disebabkan oleh biji apel yang tak sengaja tertelan adalah kasus yang jarang terjadi.

Amygdalin ini tidak hanya terdapat pada apel, tetapi juga pada biji aprikot, biji buah persik, plum, dan almond.

Lantas, apa amygdalin? Amygdalin adalah racun glikosida yang dapat memproduksi hidrogen sianida, jika dikombinasikan dengan enzim gastrointestinal atau pencernaan. Dibandingkan apel, biji buah yang memiliki zat amygdalin yang lebih besar adalah aprikot dan persik.

Tentunya, ketika mendengar kata ‘sianida’, yang ada dalam pikiran adalah ‘keracunan’. Perlu Anda ketahui bahwa buah atau biji yang mengandung amygdalin dapat diproses untuk dihilangkan zat beracunnya. Contohnya, racun yang terdapat pada almond dapat diproses sedemikian rupa, baik dihilangkan zat beracunnya, atau pun diubah menjadi zat yang berbahaya sekalian.

Apakah makan biji apel dapat sebabkan keracunan sianida?
Tentu Anda sudah mendengar bahwa sianida merupakan racun yang mematikan. Sianida memiliki sejarah yang panjang untuk digunakan pada perang kimia dan bunuh diri massal.

Lantas, bagaimana dengan sianida pada biji apel, apakah juga berbahaya? Faktanya zat amygdalin yang terkandung pada biji apel hanya sedikit. Selain itu, untuk mengubahnya menjadi sianida, Anda harus mengunyah biji tersebut.

Jika biji ini terkunyah hanya sedikit, tentunya tidak masalah. Jumlah kecil tersebut dapat didetoksifikasi oleh enzim yang ada di dalam tubuh Anda. Dalam jumlah kecil, tubuh mengubah sianida menjadi tiosianat, yang tidak berbahaya dan bisa dikeluarkan oleh urine.

Selain itu, ternyata jumlah yang sedikit ini justru bermanfaat untuk menjaga kesehatan saraf dan sel darah merah, jika dikombinasikan dengan zat kimia lain yang dapat membentuk vitamin B12.

Tetapi, pendapat berbeda diungkapkan Agency for Toxic Substances & Disease Registry, yang dikutip situs Healthline, menurutnya jumlah yang minim pun tetap berbahaya. Terkontaminasi sianida dapat menyebabkan kerusakan jantung, dan otak, bahkan koma, dan kematian.

Jika Anda memakannya dalam jumlah besar, tentunya akan berbahaya. Sianida dalam jumlah besar dapat mengikat fungsi sel-sel darah yang membawa oksigen, karena zat ini mampu masuk dengan cepat ke dalam aliran darah. Dalam sekejap, sel akan kekurangan oksigen dan tentunya sel menjadi mati.

Racun sianida akan menyerang jantung, sistem pernapasan, dan sistem saraf pusat.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention, yang dikutip situs Healthline, dosis sianida yang dapat mengakibatkan kondisi fatal adalah sekitar 1-2mg/kg, atau kira-kira Anda harus memakan sekitar 200 biji apel, atau 20 bagian tengah buah apel. Dengan pro dan kontra yang ada, sebaiknya biji apel tidak perlu dimakan, selain untuk berhati-hati, rasanya juga pahit.

Tentu lebih baik, Anda memakan daging apelnya saja, yang menyegarkan dan menyehatkan.

Apa saja gejala keracunan sianida?
Ada beberapa dampak kesehatan akibat keracunan sianida atau kebanyakan asupan sianida, tanda ini dapat terjadi dalam beberapa detik hingga menit. Beberapa tanda tersebut adalah:
1. Merasa lemah, dan bingung
2. Sakit kepala
3. Mual, sakit pada perut
4. Kesulitan untuk bernapas
5. Kejang
6. Gagal jantung
7. Denyut jantung cepat
8. Gemetar

Bagaimana cara mengatasi keracunan sianida?
Keracunan sianida dapat diobati dengan tenaga medis professional. Biasanya pasien diberikan oksigen. Menghirup udara segar bisa menjadi salah satu langkah mengatasinya. Natrium nitrit dan natrium tiosulfat biasanya digunakan untuk menghentikan efek dari keracunan.

Gejala  serius membutuhkan pertolongan medis dengan segera, sebab pasien dapat menyebabkan kehilangan kesadaran.

Bagaimana dengan minyak biji apel?
Minyak biji apel adalah hasil tambahan dari pengolahan sarinya, dan dibuat dari pomace apel mentah. Biasanya minyak biji apel digunakan karena wanginya, selain itu juga baik untuk meringankan peradangan kulit dan memperbaiki kondisi rambut.

Beberapa penelitian mengatakan bahwa minyak biji apel  merupakan sumber antioksidan dan berpotensi sebagai antikanker. Penelitian lain bahkan menemukan minyak biji apel dapat melawan bakteri dan jamur.

Sianida dapat terbentuk jika zat amygdalin pada biji apel bereaksi terhadap enzim pencernaan, alias jika ditelan.(suara.com)

 

About focus

Lihat Juga

Pentingnya Ruang Keluarga untuk Hubungan Orangtua dan Anak

Ruang keluarga merupakan bagian terpenting yang berdampak langsung terhadap suasana hati, dan kedekatan hubungan keluarga. …

Apa Bedanya Antara Hepatitis B dan C?

Penyakit hepatitis tentu tak asing lagi di telinga. Namun, penyakit hati ini terdiri dari berbagai …

Kandungan dalam Kopi Ini Bikin Anda Berumur Panjang

Tahukah Anda, ada satu keuntungan tak terduga dari secangkir kopi yang diminum di pagi hari. …

Waspada! Anak Sulit Sarapan Risiko Kekurangan Gizi Menghantui

Sarapan adalah makanan yang paling penting untuk memulai aktivitas sehari-hari. Ini penting karena seseorang harus …

Apa Manfaat Anak Ikut Lomba “17 Agustusan”? Ini Kata Psikolog

Selain upacara bendera, kegiatan yang identik dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia adalah perlombaan. Mulai …

Risiko Penularan Hepatitis B ke Anak Masih Tinggi

Indonesia masih diintai virus hepatitis. Meski angka kejadian hepatitis di Indonesia dilaporkan menurun, masyarakat diimbau …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *