Kamis , 21 Oktober 2021
Home / Sumenep / Dana Pendidikan Dipangkas, Perguruan Tinggi Dituntut Kreatif

Dana Pendidikan Dipangkas, Perguruan Tinggi Dituntut Kreatif

focussumenep-Jamal Wiwoho, Inspektur Jenderal Kemenristekdikti RI-Alwiyah Rektor Unija

Dana Pendidikan Dikurangi, Pimpinan Perguruan Tinggi Harus Bisa Lebih Kreatif

SUMENEP — Dengan dikuranginya anggaran dana pendidikan di Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia(Kemenristekdikti RI) yang mencapai kurang lebih sampai 3 Triliun pada tahun 2016 ini akan menjadi tantangan terhadap pimpinan perguruan tinggi agar lebih kreatif, sehingga ketika tidak mendapatkan dana dari pemerintah mampu mensiasati dengan berbagai usaha yang dapat menjadi penunjang terhadap kebutuhan dana di kampus tersebut.
Pada tahun 2015 Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenrestekdikti) tahun 2015 mendapat dana pendidikan mencapai 43 Triliun, namun pada tahun ini angaran itu berkurang sekitar 3 Triliun, sehingga dana yang tersedia pada tahun 2016 hanya sebesar 40 Triliun.
“Ya begini perguruan tinggi kan punya cara untuk mensiasati penurunan ini, karena sudah banyak perguruan tinggi yang memilki Badan Layanan Usaha (BLU), jadi tidak hanya melayani publik sevice kepada mahasiswa tetapi juga boleh melakukan kegiatan usaha,” kata Jamal Wiwoko, Inspektur Jenderal Kemenristekdikti RI, Kamis (7/4/2016).
Disebutkan, bahwa saat ini sudah banyak perguruan tinggi telah memiki Badan Layanan Usaha (BLU) yang sudah berbadan hukum, sehingga hal itu memang diperbolehkan agar nantinya perguruan tinggi memiliki keuntungan bisa dijadikan operasionalisasi ketika dana ketersediaan dari pemerintah berkurang.
“Perguruan tinggi itu boleh punya gedung disewakan, kalau kita lihat misalnya di Universitas Brawijaya, Sehingga ketika ada keuntungan digunakan untuk melakukan operasionalisasi ketika dana dari pemerintah itu berkurang,” jelasnya.
Menurutnya, ketika dana itu kurang apakah menghambat secara langsung atau tidak terhadap peningkatan mutu pendidikan itu tergantung bagaimana peran para rektor untuk bisa memenagement dengan baik, sebab ada juga perguruan tinggi yang dana banyak dan itu tidak kunjung habis karena mereka kreatif.
“Data mengatakan bahwa serapan kita selalu rendah hanya serapan pada bulan Oktober-Nopember itu yang tinggi, kita lihat semuanya di Jakarta sampai sekarang yang terserap hanya rutin yaitu gaji, tetapi untuk sarana dan prasarana 1,8 Triliun itu ada yang dapat namun tidak mau ngambil karena takut,” paparnya.
Maka dari itu kedepan apabila dana terus berkurang para pemimpin perguruan tinggi harus bisa mengambil seni dengan cara mensiasati dengan melakukan langkah-langkah kongkrit mencari solusi tanpa mengurangi peningkatan mutu pendidikan perguruan tinggi tersebut.
“Jadi harus kreatif, kalau kurang dana harus ditambah apanya, atau kesejahteraan dikurangi tapi mutunya ditambah,” pungkasnya.(ros/red)
 

About focus

Lihat Juga

SEBERAPA PENTINGKAH DEBAT?

Oleh : Rausi samorano (forpkot) Sumenep-, Dalam pagelaran kontestasi demokrasi baik itu pemilu maupun pilkada …

(VIDEO) Kepulauan Sumenep Darurat Narkoba

 

Poros Jalan Desa Buddi Arjasa Berlumpur Bertahun-tahun

Sumenep-, Desa Buddi merupakan salah satu desa yang masuk dalam kecamatan Arjasa, yang terisolir ketika …

KADES SAWAH SUMUR TERINDIKASI TERLIBAT MONEY POLITIK PILKADA SUMENEP 2020

Sumenep-, Pemilihan kepala daerah Kabupaten Sumenep akan digelar sebentar lagi, tepatnya pada 9 Desember 2020 …

Lambannya Proses Hukum Dugaan Ijazah Palsu Desa Kangayan

Sumenep-, Dugaan pemalsuan Ijazah yaitu dengan cara memanipulasi data pribadi kepala desa Kangayan, guna melengkapi …

KETIMPANGAN SOSIAL DITENGAH PANDEMI?

Sumenep-, Baru saja rombongan Pemkab Sumenep melakukan perjalanan Safari Kepulauan pada beberapa waktu yang lalu. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *