Minggu , 28 Februari 2021
Home / Sumenep / SEBERAPA PENTINGKAH DEBAT?

SEBERAPA PENTINGKAH DEBAT?

Oleh : Rausi samorano (forpkot)

Sumenep-, Dalam pagelaran kontestasi demokrasi baik itu pemilu maupun pilkada pasca orde baru memberikan angin segar untuk dialegtika gagasan, kebebasan berpendapat, “jual-beli” ide bahkan debat kusir dan bullying, menjadi terbuka dan suka-suka. Inilah euforia demokrasi setelah beberapa dekade dikebiri.

Pasca reformasi fenomena debat dan diskusi mendapatkan panggungnya di warung-warung kopi, di cafe-cafe, dihotel berbintang hingga menjadi program rutin televisi, dan ini begitu marketable bagi pebisnis media. Tapi belakangan debat kandidat manjadi berkurang daya tariknya, karena debat kehilangan esensinya kehilangan ruhnya dan tak lagi dijadikan pijakan dan standar penilaian terhadap konsepsi ide dan visi kandidat. Bahkan lebih menarik debat panas para pengikut dan pendukung utamanya saja.

Contoh nyata dan ini fakta. Sehebat apapun porgram dan secanggih apapun bahasa verbal menyampaikan gagasan tidak banyak berpengaruh terhadap putusan pemilih. Lalu esensi dan goal dari debat kandidat itu apa…? Untuk apa…? Dan untuk siapa..? Apa gunanya…?

Jika berbicara visi misi, sudah tinggal baca saja karena semua paslon sdh menuliskannya dan sudah di share dimana-mana.

Debat pada dasarnya untuk menguji visi dan komitmen pencapainya, menjelaskan kisi-kisi visi secara singkat dan menjelaskan hal lain yang dianggap belum tereksplor secara jelas dalam jabaran visi dan misinya. Persoalan ada sindiran bahkan serangan terhadap visinya oleh pihak lawan itu wajar untuk menguji ke “shahehan”,kapasitas -kapabelitas, komitmen dan konsistensinya.

Debat Cabup/Cawabup
Mengacu kepada debat cabup-cawabup Kab Sumenep beberapa waktu lalu dan tingkat partisipasi masyarakat untuk menyaksikannya yang tak sampai 1% dari total pemilih apalagi mengkritisi visi dan programnya saya yakin hanya se persekian persen,itupun terbatas hanya oleh timses dan pendukung fanatiknya saja. Sehingga debat langsung dan terbuka semacam itu menjadi hambar dan kurang menarik, padahal dengan anggaran cukup besar, tapi tak masalah juga, hitung-hitung jadi “tontonan dan hiburan” alternatif, selain opera sabun mandi.

Masyarakat seperti kurang antusias lagi untuk menyaksikan debat kandidat cabub cawabup, yang hiruk pikuk hanya dikalangan timses saja.

Hal ini disebabkan beberapa alasan:
1. Conten diluar ekspektasi
masyarakat awalnya terlalu berharap banyak dari debat tersebut, kita membayangkan akan melihat eksplorasi pengetahuan, inovasi dan komitmen dari cabup/cawabup dalam memimpin sumenep ke depan. Tak tahunya landai-landai saja. Bahkan semacam tak ada debat ya…

Seperti layaknya musyawarah kerja. Yang satu menyampaikan satu hal yang lain setuju dan akan melakukan lain hal dengan corak yang sama dan seterusnya.

2. Das sein-das sollen
ini menjadi keyakinan yang muncul dari masyarakat bawah apa yang mereka katakan tak kan sama dengan apa yang akan dikerjakan. Bahkan apa yang mereka perkirakan tak sama dengan kenyataan. Orang yang di”branding” cerdas, pinter dan intelek kenyataanya ya begitu-gitu saja. Dan begitu juga juga sebaliknya orang yang dianggap sakit dan tak bisa apa-apa, ternyata bisa dan baik-baik saja. Hal-hal macam ini menjadi daya pembosan bagi konstituen.

3. Apapun hasilnya dianggap sama saja
karena anomali masyarakat (khususnya masyrakat pendukung) terhadap debat pertama cukup ingar bingar di medsos bahkan ada semacam mobilisasi untuk menontonnya dengan harapan calonnya unggul dan meyakinkan. Tapi hasilnya tak begitu, maka masyarakat sumenep merasa tak akan ada yang baru dalam debat berikutnya nanti.

Masyarakat sumenep sudah tidak menganggap debat berikutnya itu penting, karena mereka tidak menemukan konsepsi visi yang inovatif dan baru sebagai daya dobrak untuk menawarkan satu hal yang berbeda bagi “incumben”, tapi nyatanya itu tak d temukan bahkan ada semacam “imitasi” gagasan dengan modus berbeda inti sama. Jika begitu kenapa harus ada debat terbuka….? Jika gagasan penantang tak jauh beda dengan sang juara bertahan…? Kenapa tak bilang saja “lanjutkan”..?

Hasil debat akan dianggap biasa-biasa saja karena pasti sudah melalui proses evaluasi, perbaikan2, dan tentu persiapan-persiapan yang matang, bahkan jika perlu apa yang akan d tanyakan ke lawan bisa d buat oleh konsultan, dan ini tidak akan murni dan jauh dari essensi debat terbuka yang ideal.

Debat (pertama) saya kira lebih murni, dan lebih meyakinkan daripada debat-debat berikutnya karena debat belum banyak persiapan-persiapan karena belum tahu model dan sistem panel debatnya, sehingga hal ini candidat lebih banyak berperan bukan relawan dan konsultan.Masyarakat penikmat akan menjadikan debat sebagai tolak ukur debat-debat berikutnya. 

Misalnya nanti debat berjalan landai-landai saja seperti yang pertama, masyarakat akan bilang pak. Fj tak punya inovasi dan tak mampu mengimbangi. Tapi jikapun debat akan diugguli oleh pak. Fj. Sebagian masyarakat penikmat debat akan berkomentar bahwa pak. Fj sudah mempersiapkan diri dan berdiskusi dengan relawan dan konsultan. Sehingga kalau boleh dinilai jika pak. Fj unggul score menjadi 0-0.

Tapi apapun hasilnya masyarakat penikmat debat sepertinya sudah tak tertarik lagi karena debat pertama membalikkan segala prediksi, dan debat 2-3 semacam “tak ada arti”
Masih mau debat lagi….???. Ah… Sudahlah, tak ada menarik lagi, lebih baik fikirkan bagaimana menambah suara dan mempertahankna capaian suara di last munite yang sangat krusial ini. Toh.. Penikmat debat hanya berkisar d angka 1% itupun pasti dari pendukung kedua belah pihak. Jadi saran saya ke pak. Af dan ke pak. Fj turun saja ke bawah, konsolidasi dan massifikasi kordinasi hingga ke tim di tingkat grassroot, untuk mengamankan suara daripada sibuk berdebat yang sdh jadi formalitas kpu saja. Sudah turun saja……. Saya mau ngopi.(Ros/red)

 

About Focus Madura

Lihat Juga

KADES SAWAH SUMUR TERINDIKASI TERLIBAT MONEY POLITIK PILKADA SUMENEP 2020

Sumenep-, Pemilihan kepala daerah Kabupaten Sumenep akan digelar sebentar lagi, tepatnya pada 9 Desember 2020 …

Lambannya Proses Hukum Dugaan Ijazah Palsu Desa Kangayan

Sumenep-, Dugaan pemalsuan Ijazah yaitu dengan cara memanipulasi data pribadi kepala desa Kangayan, guna melengkapi …

KETIMPANGAN SOSIAL DITENGAH PANDEMI?

Sumenep-, Baru saja rombongan Pemkab Sumenep melakukan perjalanan Safari Kepulauan pada beberapa waktu yang lalu. …

DIRIKAN POSKO PEMENANGAN, PROJIE BLUTO MANTAPKAN DUKUNGAN KEPADA FAUZI-EVA

Sumenep-, Relawan PROJIE (probanguji-eva) secara sukarela mendirikan posko pemenangan diwilayah Kecamatan Bluto Sumenep,Madura. Gerakan pemuda …

Pria di Sumenep Ditemukan Tewas Dalam Sumur Tua Tak Berair

Sumenep- Seorang pria paruh baya di Desa Masran, Kecamatan Bluto, Sumenep-Jawa Timur ditemukan tewas di …

(VIDEO)Pendaftaran Fattah Jasin-Kiai Fikri Belum Usai, Ra-Mamak Dijemput Relawan?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *