Senin , 1 Maret 2021
Home / Kesehatan / Pemicu Tingginya Angka Perokok Remaja di Indonesia

Pemicu Tingginya Angka Perokok Remaja di Indonesia

Seringkali dijumpai mereka yang berseragam sekolah, dengan asyiknya mengobrol sambil mengisap rokok. Tercatat, sekitar 3,9 juta anak remaja sudah terpapar rokok secara aktif.

Dari data Riskesdas 2013 sebanyak 20,5 persen remaja usia 15-19 tahun dan sebanyak 3,7 anak usia 10-14 tahun adalah perokok aktif. Angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 10 kali lipat dari data riskesdas 1995. Peningkatan besar tersebut dikaitkan dengan produksi rokok yang melimpah serta akses mudah untuk mendapatkan rokok.

“Di warung kecil, anak sekolahan bebas beli rokok karena belum ada pengawasan ketat dari pemerintah. Di samping itu, harga rokok masih sangat murah, membuat anak remaja mudah menjangkaunya,” ujar Humas Yayasan Lentera Anak, Umniyati Kowi, dalam acara Dampak Tembakau pada Perempuan dan Anak, di Komnas Perempuan, Jakarta, Kamis 2 Februari 2017.

Selain itu, beredar bebasnya iklan rokok, memberikan ruang bagi anak dan remaja untuk turut mencoba rokok. Terlebih, iklan rokok seringkali menunjukkan kepribadian para anak dan remaja, sehingga membuat keinginan untuk merokok semakin kuat.

“Dari beberapa sekolah di lima kota yang kita survei, 85 persen sekolahnya dikelilingi iklan rokok, baik itu poster, spanduk, dan sebagainya. Apalagi di televisi, iklan rokok sering menggambarkan perwakilan dari sosok anak itu, yang membuatnya ingin mencoba,” ucapnya.

Tidak hanya itu, iklan rokok juga sering dipasang di sudut-sudut minimarket dekat makanan ringan. Bahkan, sering menjadi sponsor pentas seni sekolah dan acara olahraga. Paparan tersebut, tentu saja menjadi ancaman bagi generasi penerus bangsa.

“Pengeluaran untuk membeli rokok itu menempati urutan kedua setelah padi-padian. Sehingga konsumsi rokok lebih tinggi dari asupan gizi lain seperti lauk dan sayur,” kata dia.

Lebih lanjut Umniyati menyebutkan bahwa efek merokok tidak didapatkan langsung melainkan belasan tahun mendatang.

“Tentu saja mengancam tumbuh kembang anak. Bahkan risiko kematian mengintai setelah 10-15 tahun rutin merokok,” ujarnya.(VIVA.co.id)

 

About focus

Lihat Juga

Pentingnya Ruang Keluarga untuk Hubungan Orangtua dan Anak

Ruang keluarga merupakan bagian terpenting yang berdampak langsung terhadap suasana hati, dan kedekatan hubungan keluarga. …

Apa Bedanya Antara Hepatitis B dan C?

Penyakit hepatitis tentu tak asing lagi di telinga. Namun, penyakit hati ini terdiri dari berbagai …

Kandungan dalam Kopi Ini Bikin Anda Berumur Panjang

Tahukah Anda, ada satu keuntungan tak terduga dari secangkir kopi yang diminum di pagi hari. …

Waspada! Anak Sulit Sarapan Risiko Kekurangan Gizi Menghantui

Sarapan adalah makanan yang paling penting untuk memulai aktivitas sehari-hari. Ini penting karena seseorang harus …

Apa Manfaat Anak Ikut Lomba “17 Agustusan”? Ini Kata Psikolog

Selain upacara bendera, kegiatan yang identik dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia adalah perlombaan. Mulai …

Risiko Penularan Hepatitis B ke Anak Masih Tinggi

Indonesia masih diintai virus hepatitis. Meski angka kejadian hepatitis di Indonesia dilaporkan menurun, masyarakat diimbau …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *