Senin , 13 Juli 2020
Home / Jurnalis Masyarakat / Jembatan Gantung Bong Campor: Primadona Penghubung Harapan Dua Desa

Jembatan Gantung Bong Campor: Primadona Penghubung Harapan Dua Desa


Pamekasan-,  Hal yang cukup menyenangkan dari pulang ke kampung halaman salah satunya tentu saja kalau kita bisa mencuri waktu untuk explore lebih jauh tentang perkembangan terbaru di tanah kelahiran. So do I. Pada kesempatan liburan kali ini, saya menyempatkan untuk mengunjungi salah satu destinasi yang sebenarnya tujuan pendiriannya lebih kepada pendukung mobilitas masyarakat sekitar daripada jujukan tempat wisata.

Jembatan Gantung Bong Campor. Begitulah nama yang dinisbahkan kepada salah satu jembatan yang menjadi tujuan dari perjalanan saya untuk mengenal lebih dekat tentang mahakarya Sang Pencipta pada tulisan ini.

Setelah sempat ragu untuk berangkat di tengah cuaca sore yang kurang bersahabat pada 2 Mei kemarin, bersama beberapa saudara saya akhirnya dapat membelah jalanan demi menyaksikan jembatan yang belakangan populer di media sosial tersebut. Matahari tidak muncul dengan berani sore itu, namun tidak demikian dengan rasa penasaran saya.

Dari arah rumah saya memilih rute yang melewati kantor kecamatan Pasean, Pamekasan. Sekira 20 menit setelah melewati kantor kecamatan Pasean, kami beralih dari jalan utama pantura kepada jalanan di tengah-tengah Desa Batu Bintang.

Sekitar 7-9 menit mengarungi jalan desa akhirnya saya tiba di jembatan yang digadang-gadang sebagai jembatan gantung terpanjang di Jawa Timur.
Ketika masih berada di jalanan desa Batu Bintang, saya sempat bertanya-tanya mengenai letak dari Jembatan Gantung Bong Campor yang sebelumnya saya lihat gambarnya di beberapa medsos.

Seperti hal mustahil menemukan jembatan se-indah itu persis di tengah desa dengan kehidupan khas penuh keguyuban. Teori global village sejenak terasa meragukan tatkala melihat keasrian desa di mana Jembatan Gantung Bong Campor berada. Tidak butuh waktu lama, keraguan saya mutlak terpecahkan ketika dari kejauhan mata saya bersitatap dengan sebuah jembatan persis dengan nuansa hijau di sekitarnya.

Nuansa menenangkan ini harus pupus sejenak ketika tiba di pintu masuk dan berhadapan dengan pungutan karcis 2 ribu untuk satu sepeda motor dan 3 ribu untuk sebuah mobil. Sembari mengambil pungutan uang masuk, beberapa petugas sempat berujar bahwa uang tersebut sebagai upahan jasa pelayanan parkir. Upahan ini yang kemudian dikeluhkan oleh beberapa lapisan masyarakat sebagaimana diberitakan oleh madura post dengan pasal pungutan liar atas fasilitas pemerintah.

Mari kita lupakan perkara parkir dan beralih kepada jalan dari pintu masuk menuju Jembatan Gantung Bong Campor. Lokasi pintu masuk berada di dataran yang sedikit tinggi sehingga dibutuhkan sedikit waktu untuk menuruni jalan beraspal dengan kelokan yang begitu indah.

Begitu tiba di bawah tepatnya di lokasi jembatan gantung terpancang, saya disuguhkan pemandangan memikat. Bukan hanya dari bentuk dan panjang jembatan, namun juga dari kondisi sekitar yang dikelilingi oleh pepohonan. Tidak cukup sampai di situ, beberapa hamparan bebatuan coklat kehitaman turut menghiasi sekitar lokasi di mana di sela-selanya terdapat beragam tumbuhan. Begitu hijau, begitu hidup.

Barangkali tidak salah jika ada ungkapan Tuhan kadang menciptakan sebuah tempat sembari tersenyum.
Puas dengan beberapa gambar dengan latar hamparan hijau, saya berpindah menuju jembatan yang habis menguras rasa penasaran ini. Belum lagi tontonan video tentang jembatan ini sukses mengundang keingintahuan yang cukup besar. Di bawah langit kelabu, pengunjung terlihat padat memenuhi jembatan dengan beraneka ragam usia. Tua muda, kecil dewasa, laki-laki perempuan berlomba memuaskan rasa penasaran mereka. Dan memang, sebuah rasa patut untuk untut dituntaskan setuntas-tuntasnya.

Memasuki area jembatan, lagi-lagi satu spot menarik perhatian saya. Tepat di bawah jembatan, sebuah sungai membentang dengan eloknya. Sungguh paket komplit. Jalanan desa, kelokan jalan masuk, beragam tumbuhan, aliran sungai, dan pastinya jembatan gantung yang begitu kokoh. Satu lagi, ada langit yang setia menjadi saksi padu-padan keanggunan di bawahnya. Ada modernitas yang terbangun dalam ruang lokal di sini.

Satu sensasi tidak terlupakan dari jembatan yang memiliki tinggi 124 Meter ini terletak pada ayunannya yang cukup memacu adrenalin. Berhubung Jembatan Gantung Bong Campor berfungsi sebagai penghubung Desa Batu Bintang dan Lesong Daya, maka penduduk sekitar kerap terlihat melintas terutama sepeda motor. Dari sini karakter para penduduk yang sopan memberi sedikit klakson sampai yang tidak henti membunyikan bunyi khas sepeda motor selama melintasi jembatan bisa ditemui. Pengunjung harus cukup berbesar hati mendengar rentetan klakson dari penduduk yang hendak melintas. Bagi yang hobi mengabadikan momen melalui jepretan, mereka harus berlapang dada mengulang pose yang sempat terjeda oleh lalu lalang sepeda motor.

Menyaksikan jumlah pengunjung sore itu, saya tidak cukup punya banyak nyali untuk menyusuri seluruh jembatan yang ditaksir memiliki panjang 120 Meter ini. Apalagi beberapa pengunjung sempat berseru bahwa jembatan sempat kelebihan muatan. Barangkali memang dilematis bagi petugas jembatan untuk membatasi pengunjung yang naik, sebab beberapa dari mereka merupakan penduduk yang kebetulan hanya melintas menuju desa sebelah. Selebihnya saya harus mengapresiasi kesigapan petugas yang menegur beberapa pengunjung yang bersandar pada pembatas jembatan. Tidak hanya satu, namun berjamaah.

Perjalanan angka waktu yang menunjukkan jam 17.00 kala itu memutus ketertegunan saya pada pertumbuhan desa yang telah membentuk sebuah wajah dengan tatanan lebih baru. Sepadan dengan destinasi wisata kekinian lainnya, bagi saya dan mungkin beberapa orang lainnya kategori hal-hal baru telah berubah. Jika dahulu kebaruan cukup dengan busana baru pada hari raya, kini semua telah jauh bergeser. Termasuk di dalamnya kehadiran Jembatan Gantung Bong Campor.

Tidak apa. Dunia memang selayaknya berubah. Perubahan menjadi bukti dari segala sesuatu yang hidup. Walaupun dari semua tanda kehidupan tersebut ada hal yang tidak kalah penting untuk tetap dipertahankan yakni nilai.

Lestarilah nilai-nilai pedesaan di tengah hiruk pikuk kehadiran Jembatan Gantung Gong Campor. Saya panjatkan harapan itu sepanjang jalan menuju rumah, tepat ketika matahari telah kembali ke peraduannya.(Syarifah Isnaini)

Penulis/Syarifah Isnaini

Penulis merupakan mahasiswi Program Pascasarjana Interdisciplinary Islamic Studies di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Dalam rangka proses purna studi, saat ini penulis berdomisili di Yogyakarta. Penulis dapat dihubungi pada nomor telpon 0853-3038-5957 dengan sosial media @syarifahitsnaini (instagram) dan Syarifah Itsnaini (Facebook).

 

About Focus Madura

Lihat Juga

Apa Kabar Visit Sumenep 2018

Sebuah pertanyaan, akankah 36 even dengan target  15.000 hingga 1,1 juta wisatawan akan betul-betul terwujud …

Air Hujan Menggenang Kota Sumenep, Butuh Masyarakat atau Pemerintah?

(Jurnalis Masyarakat : Alif) Benarkah Kritik Harus dengan Solusi? Suatu siang, terjadi hujan lebat dengan …

Wabup Sumenep Sapa Ratusan Peserta Oxygen Gili Iyang Cycling

Sumenep – Cooffe night Oxygen Gili Iyang Sumenep Cycling, disuguhkan bagi ratusan peserta gowes dan warga …

Oxygen Gili Iyang Sumenep Cycling 2017 Diikuti Ratusan Peserta Se-Indonesia

Sumenep – Event Oxygen Gili Iyang Sumenep Cycling 2017, yang digelar di pulau Gili Iyang …

Tak Kalah Indah Dengan Bali, Ini Wisata Pulau Sapeken

Sumenep-, Sempatkan waktu berkeliling di Desa Saur, Kecamatan Sapeken, Sumenep, Madura – Jawa Timur, Wakil …

Banyak Destinasi Wisata Tak Kantongi TDUP, Disparbudparpora Sumenep Dianggap Tidak Bisa Bekerja

Sumenep- Menjelang Visit Sumenep 2018, sejumlah destinasi wisata yang ada di Kabupaten Sumenep masih belum mengantongi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *