Minggu , 28 Februari 2021
Home / Sumenep / Festival Batik Sumenep Tuai Kecaman, Ini kata Akademisi

Festival Batik Sumenep Tuai Kecaman, Ini kata Akademisi

Sumenep-, Festival batik Sumenep 2017 yang digelar di Kabupaten Sumenep, Madura – Jawa Timur pada 9 Desember 2017 terus menuai kecaman dari berbagai kalangan, mulai dari budayawan   hingga para politisi angkat bicara mengenai hal ini.

Pagelaran yang di gelar oleh Dinas PU Bina Marga degan tujuan mengangkat destinasi wisata visit wisata 2018. pada acara festival batik 2017 terdapat tiga rangkaian yakni fashion on the street, malam puncak Sumenep batik Festival, dan Sumenep Colour Fun Run.

Kepala Dinas PU Bina Marga, Edy Rasiady  mengatakan Festival tersebut telah menyita perhatian banyak publik, pasalnya satu rentetan acara menjadi perbincangan hangat dari berbagai kalangan, model yang memakai baju dari designer diperdebatkan pantas tidaknya diperlihatkan ke publik.

“melihat perkembangan Sumenep yang semakin maju, mulai dari wisata hingga batik maka tidak heran para designner berlomba lomba untuk membuat design atau rancangan untuk menarik para pecinta / penikmat batik”, Ujarnya.

Ditengah banyaknya kecaman dari berbagai kalangan seorang mahasiswa dari salah satu universitas swasta yang ada di Kabupaten Sumenep memiliki pandangan yang berbeda.

Wawan seorang mahasiswa dari salah datu Universitas Swasta di Kabupaten Sumenep menilai pandangan masyarakat yang menilai penampilan mereka terlalu fulgar dan eksotis tersebut kurang enak dilihat dan menyalahi budaya keagamaan  masyarakat Sumenep menurutnya pandangan tersebut terlalu ekstrim karena menjadikan agama dan budaya sebagai alat tunggal untuk melihat kenyataan.

Pihaknya juga mengungkapkan beberapa pandangan yang berkaitan dengan perkembangan seperti Menurut Soerjono Soekanto: Modernisasi adalah suatu bentuk dari perubahan sosial, yang biasanya merupakan perubahan sosial yang terarah (directed change) yang didasarkan pada suatu perencanaan (social planning).

“masyarakat seharusnya bisa mehamami event tersebut merupakan sebagai ajang promosi semua jenis dan varian bati jika ada yang longgar dan bernuansa terbuka  merupan tuntutan style dari produsen yang ditawarkan, hal ini jelas untuk menjawab kebutuhan pasar, yang tentu saja konsumennya bukan hanya ummat islam, tapi juga untuk ummat yang lain yang dalam keterbiasaannya memiliki ketertarikan berbeda mulai dari design, model serta jenis jenisnya. karena jenis batik yang longgar dan pasar pasar sudah banyak kita jumpai “, jelasnya.

 

About focus

Lihat Juga

KADES SAWAH SUMUR TERINDIKASI TERLIBAT MONEY POLITIK PILKADA SUMENEP 2020

Sumenep-, Pemilihan kepala daerah Kabupaten Sumenep akan digelar sebentar lagi, tepatnya pada 9 Desember 2020 …

Lambannya Proses Hukum Dugaan Ijazah Palsu Desa Kangayan

Sumenep-, Dugaan pemalsuan Ijazah yaitu dengan cara memanipulasi data pribadi kepala desa Kangayan, guna melengkapi …

KETIMPANGAN SOSIAL DITENGAH PANDEMI?

Sumenep-, Baru saja rombongan Pemkab Sumenep melakukan perjalanan Safari Kepulauan pada beberapa waktu yang lalu. …

DIRIKAN POSKO PEMENANGAN, PROJIE BLUTO MANTAPKAN DUKUNGAN KEPADA FAUZI-EVA

Sumenep-, Relawan PROJIE (probanguji-eva) secara sukarela mendirikan posko pemenangan diwilayah Kecamatan Bluto Sumenep,Madura. Gerakan pemuda …

Pria di Sumenep Ditemukan Tewas Dalam Sumur Tua Tak Berair

Sumenep- Seorang pria paruh baya di Desa Masran, Kecamatan Bluto, Sumenep-Jawa Timur ditemukan tewas di …

(VIDEO)Pendaftaran Fattah Jasin-Kiai Fikri Belum Usai, Ra-Mamak Dijemput Relawan?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *