Senin , 1 Maret 2021
Home / Sumenep / Aroma Monopoli Tercium Pada Proses Tender CPHMA Sumenep, LIPK : KPK Harus Pelototin Soal Ini

Aroma Monopoli Tercium Pada Proses Tender CPHMA Sumenep, LIPK : KPK Harus Pelototin Soal Ini

Sumenep-, Aroma tak sedak tercium pada proses tender Cold Paving Hot Mix Asbuton (CPHMA) di LPSE (Layanan Pengadaan Secara Elektronik) Sumenep, Madura, Jawa Timur. Diduga ada indikasi perbuatan kecurangan yakni dengan cara pengondisian yang dilakukan oleh oknum, agar pada proses tender tersebut hanya mengarah ke salah satu perusahaan saja.

Hal tersebut didasari oleh adanya persyaratan jika dukungan suplay CPMA harus memiliki hasil laboratorium dan diunggah dalam dokumen penawaran yang diterbitkan oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN). Kemudian juga diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan (Pusjatan) saja.

“Yang kami pertanyakan adalah yang diterbitkan PUSJATAN. Padahal, tender tahun lalu tidak ada persyaratan itu, sehingga ada beberapa lembaga negara yang berkompeten lainnya yang juga dapat menerbitkan legalitas Komite Akreditasi Nasional, yakni seperti balai kementrian PUPR Jawa Timur , ” kata Saifuddin, Ketua LIPK (Lembaga Independen Pengawas Keuangan).

Saifuddin mengaku mencurigai adanya salah satu perusahaan di Sumenep, yang memiliki akses tunggal di PUSJATAN Bandung, sementara yang berjalan sebelum-sebelumnya, bahwa ada beberapa perusahaan di Sumenep yang lainnya hanya cukup mengaksesnya di balai kementrian PUPR Provinsi Jawa Timur di Surabaya, sehingga dirinya mensinyalir Pemkab Sumenep mengabaikan lembaga negara sekelas Kementrian.

Apabila ini terjadi, sambung dia, maka dimungkinkan akan terjadi praktik monopoli pekerjaan di Sumenep. Bisa saja perusahaan tertentu yang akan mengambil manfaat dalam pekerjaan ini. “Kami menduga pada akhirnya akan terjadi monopoli pekerjaan. Ini yang tidak sehat, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus mengintai persoalan ini, karena kebijakannya mengarah ke salah satu pihak saja ” ungkapnya.

Saifuddin menuturkan bahwa dari 17 paket kegiatan coldmix atau asbuton lalu dikerjakan oleh satu perusahaan. Sebab, anggarannya terendah sekitar Rp 400 juta hingga Rp 3 miliar lebih. “Dari 17 Paket itu diperkirakan mencapai Rp 40 miliar, ” ucapnya.

Untuk itu, pihaknya meminta untuk dikaji ulang persyaratan tender tersebut. Sehingga, tidak terjadi monopoli. “Mumpung belum selesai tendernya, Kami hanya ingin minta ada kajian ulang terkait ini. Supaya, tak ada monopoli pekerjaan. Meski hasil Aanwizing persyaratan tak ada perubaha, ” tukasnya.

Kepala LPSE Mustangin saat dihubungi media ini tidak memberikan respon. Saat didatangi ke kantornya juga tidak ada ditempat. “Bapak sedang salat, dan habis ini ada acara,” kata stafnya kepada sejumlah media.

Kepala Dinas PU Bina Marga Eri Susanto belum bisa dikonfirmasi terkait masalah ini. Saat dihubungi melalui sambungan telepon, tidak diangkat. Meskipun nada sambung pribadinya terdengar aktif.(eko)

 

 

About Focus Madura

Lihat Juga

KADES SAWAH SUMUR TERINDIKASI TERLIBAT MONEY POLITIK PILKADA SUMENEP 2020

Sumenep-, Pemilihan kepala daerah Kabupaten Sumenep akan digelar sebentar lagi, tepatnya pada 9 Desember 2020 …

Lambannya Proses Hukum Dugaan Ijazah Palsu Desa Kangayan

Sumenep-, Dugaan pemalsuan Ijazah yaitu dengan cara memanipulasi data pribadi kepala desa Kangayan, guna melengkapi …

KETIMPANGAN SOSIAL DITENGAH PANDEMI?

Sumenep-, Baru saja rombongan Pemkab Sumenep melakukan perjalanan Safari Kepulauan pada beberapa waktu yang lalu. …

DIRIKAN POSKO PEMENANGAN, PROJIE BLUTO MANTAPKAN DUKUNGAN KEPADA FAUZI-EVA

Sumenep-, Relawan PROJIE (probanguji-eva) secara sukarela mendirikan posko pemenangan diwilayah Kecamatan Bluto Sumenep,Madura. Gerakan pemuda …

Pria di Sumenep Ditemukan Tewas Dalam Sumur Tua Tak Berair

Sumenep- Seorang pria paruh baya di Desa Masran, Kecamatan Bluto, Sumenep-Jawa Timur ditemukan tewas di …

(VIDEO)Pendaftaran Fattah Jasin-Kiai Fikri Belum Usai, Ra-Mamak Dijemput Relawan?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *